Thursday, October 30, 2008

Jadwal Pemutaran Festival Film Pendek Konfiden 2008



Minggu, 9 November
18.30 - 21.00 Pembukaan

Senin, 10 November
14.00-15.30 Program Kompetisi 4: Hati-hati Jalan Licin
15.30-17.00 Program Kompetisi 2: Bukan Jalan Umum
17.00-18.30 Program Kompetisi 1: Jauh Dekat
18.30-21.00 Program Kompetisi 3: Jalan Memutar

Selasa, 11 November
14.00-15.30 Program Khusus: FFVII 1999-2002
15.30-17.00 Program Kompetisi 1: Jauh Dekat
17.00-18.30 Program Kompetisi 4: Hati-hati Jalan Licin
18.30-21.00 Program Kompetisi 5: Jalan Berlubang

Rabu, 12 November
14.00-15.30 Program Kompetisi 5: Jalan Berlubang
15.30-17.00 Program Khusus: FFVII 1999-2002
17.00-18.30 Program Kompetisi 2: Bukan Jalan Umum
18.30-21.00 Program Kompetisi 3: Jalan Memutar

Kamis, 13 November
18.30 - 21.00 Penutupan


Program Kompetisi

Program Kompetisi 1: Jauh Dekat


Drum Lesson
Fiksi | Dur: 19'00 | 2008
Std: Tumpal Christian Tampubolon
Seorang nenek ingin belajar main drum untuk mengusir rasa sepi. Dia bertemu dengan seorang mantan
pemain drum band Death Metal yang bersedia mengajarkannya menabuh drum. Melalui musik dan drum
mereka menyadari perbedaan masing-masing namun melalui musik dan drum juga mereka dapat saling
memahami.

Kitos, Selamat Tinggal Kota Merah
Dokumenter | Dur: 24'12 | 2007
Std: Mahardika Yudha
Prd: Forum Lenteng
Catatan harian tentang pengalaman singkat di kota Tampere yang disebut sebagai Kota Merah. Sebuah
kisah sejarah kota industri dari kacamata pendatang dari Indonesia.

in3cities
Fiksi | Dur: 15'00 | 2008
Std: Samanta Limbrada
Prd: CahyaDalamGlap Production
Tiga orang di tiga kota yang berbeda. Masing-masing tokoh saling terhubung oleh kejadian yang serupa.
Sebuah komparasi subjektif dari pandangan pembuat film terhadap tiga kota tersebut.


Program Kompetisi 2: Bukan Jalan Umum

A Letter of Unprotected Memories

Dokumenter | Dur: 09'37 | 2008
Std: Lucky Kuswandi
Prd: Friday Night Films
Lucky Kuswandi mengajak kita untuk mengikuti perjalanan personal yang dialaminya ketika Imlek menjadi
'tanggalan merah'. Perayaan hari istimewa yang senantiasa membawanya kembali ke masa kecil saat
perayaan Imlek masih dilarang. Perayaan Imlek di kalangan terdekatnya, baik dulu maupun sekarang,
dengan beragam keunikannya dan pertanyaan besar yang terus diajukan Lucky setiap Imlek tiba.

Aku, Koran dan DVD
Fiksi | Dur: 06'45 | 2008
Std: Millaty Ismail
Prd: 25 Frames
Abdullah dan Milla, dua anak kecil, penjaja koran dan majalah di jalanan. Abdullah tergila-gila pada Peter
Pan, cara apapun rela ditempuhnya demi menyaksikan sang idola bernyanyi. Tak ada yang bisa melarang
Abdullah untuk mewujudkan keinginannya, termasuk Milla, sahabatnya di jalanan.

Tak Kau Kunanti
Fiksi | Dur: 07'00 | 2007
Std: Riri Riza
Prd: Miles Films Productions
Fatima tiba di ibukota dengan sekotak Nasi Durian. Ia menunggu instruksi dari rangkaian SMS dan panggilan
telepon singkat yang diterimanya. Dengan sejuta harapan ia pun bergerak dari satu tempat ke tempat yang
lainnya. Hingga ia tersadar bahwa dalam perjalanan ini, ia kembali harus berdansa sendirian.

Dompet
Fiksi | Dur: 15'00 | 2007
Std: Yudha Kurniawan Suprayoghi
Prd.: New Film Production
Persahabatan dua orang bocah (Tomo dan Ayok) yang bekerja di kereta api sebagai pengamen dan penyapu
gerbong, hampir pecah dan bertengkar hanya gara-gara sebuah dompet yang ditemukan Tomo.
Sekretariat: Yayasan Konfiden | Jl. Cilandak Bawah V No. 55, Jakarta 12430, Indonesia | +6221 765 1722
festival@konfiden.or.id | www.festivalfilmpendek.konfiden.or.id

Sugiharti Halim
Fiksi | Dur: 09'52 | 2008
Std: Ariani Darmawan
Prd: Kineruku
Sinopsis: Apa artinya sebuah nama? Bagi Sugiharti Halim, ternyata nama berarti sejumlah pertanyaan
panjang. Kadang kocak, kerap menjengkelkan, dan yang jelas penuh kontradiksi: Apa benar seseorang perlu
nama 'asli'? Apa betul nama bisa dijual? Apa iya identitas bisa disamarkan di balik sebuah nama? Sugiharti
Halim menawarkan sebuah cara pandang yang jenaka, 'nyelekit', sekaligus kontekstual untuk ditilik lagi hari
ini.


Program Kompetisi 3: Jalan Memutar

Hovering Leaf

Fiksi | Dur: 20'00 | 2008
Std: Rahabi Mandra
Prd: FFTV IKJ
Trisna, bocah ultracerdas berusia 10 tahun yang berusaha keras memecahkan misteri "π", bilangan yang
menurutnya transidental dan irasional. Di balik semua itu, siapa yang menyangka kecerdasan Trisna justru
berarti ancaman bagi keselamatan orang-orang terdekatnya?

Pasangan Baru
Fiksi | Dur: 15'00 | 2008
Std: Salman Aristo
Prd: Salto Production
Sinopsis: Kisah tentang kaum urban, tentang Jakarta yang dipenuhi oleh pasangan baru. Pasangan yang
bisa asing satu sama lain atau malah mengancam untuk kebanyakan orang.

Hulahoop Soundings
Fiksi | Dur: 07'00 | 2008
Std: Edwin
Prd: babibutafilm
Lana, gadis pekerja hotel yang selalu bermain hulahoop setiap pagi di atap hotel yang datar sambil melayani
obrolan telepon seks dari pelanggannya. Lana dan hulahoopnya memiliki daya tarik magis yang menarik Nico
untuk melupakan yang lainnya.


Program Kompetisi 4: Hati-hati Jalan Licin

Balada Hari Raya

Fiksi | Dur: 18'00 | 2008
Std: Riezky Andhika Pradana,
Prd: Forum Lenteng
Pemandangan di Stasiun Tanah Abang yang berseberangan dengan kawasan bongkaran dan kereta api
ekonomi menyusuri gubuk-gubuk penghuni pinggiran rel, menjadi saksi pertemuan Karjan dan Parmin.
Nostalgia mereka diwakili oleh seekor kambing yang diberikan Parmin kepada Karjan. Petualangan Karjan
dengan kambing yang bermuara pada kesialan Karjan.

Eve Renatha
Fiksi | Dur: 26'00 | 2008
Std: Ronald Airlangga
Prd: +62 Pictures
Kisah tentang cinta, cinta antarmanusia dan juga cinta antara manusia dan film.

Sekolah Kami, Hidup Kami
Dokumenter | Dur: 11'45 | 2008
Std: Steve Pillar Setiabudi
Prd: Commonsense
Murid-murid kelas tiga di sebuah SMA di Solo yang berusaha melakukan perubahan di sekolahnya.
Dengan cara yang matang dan sistematis, mereka berhasil mengumpulkan sejumlah bukti praktik korupsi
yang selama ini berlangsung di sekolah mereka. Inilah titik balik bagi para remaja itu dalam memahami
bahwa masa depan yang lebih baik ada di tangan mereka sendiri.
Sekretariat: Yayasan Konfiden | Jl. Cilandak Bawah V No. 55, Jakarta 12430, Indonesia | +6221 765 1722
festival@konfiden.or.id | www.festivalfilmpendek.konfiden.or.id


Program Kompetisi 5: Jalan Berlubang

Segelas Kopi Manis

Fiksi | Dur: 15'00 | 2008
Std: Fredy Aryanto
Prd: Kamaratas Studio Works
Apakah segelas kopi panas manis mampu menggagalkan ulah seorang mandor yang telah mengkorupsi
uang proyek dan gaji para kuli bangunannya?

Sepeda
Fiksi | Dur: 06'00 | 2006
Std: Harvan Agustriansyah
Prd: Star Palace
Seorang suami memberi hadiah kejutan kepada istrinya sebuah sepeda. Namun, bukan pujian yang didapat
dari dari sang istri melainkan ungkapan tidak puas pada kenyataan hidup.

Orde
Fiksi | Dur: 25'00 | 2007
Std: Harvan Agustriansyah
Prd: FFTV IKJ
Seorang supir berjuang keras memperbaiki mobilnya yang mogok di tengah jalan untuk bisa meneruskan
perjalanan. Sementara, orang asing yang menjadi penumpangnya menunjukkan ketidaksabarannya, terus
minta dilayani, dan bersikeras tidak mau keluar dari mobil tersebut.

Huan Chen Guang
Fiksi | Dur: 15'00 | 2008
Std: Ifa Isfansyah
Prd: Four Colours Films
Chen Guang adalah perempuan Cina berusia 21 tahun dan tinggal di Beijing. Ibunya yang warga Indonesia
wafat saat terjadi kerusuhan di bulan Mei 1998 di Jakarta. Sejak saat itu Chen Guang senantiasa mencoba
menghapus keperihan yang menghantuinya. Chen Guang pun pergi ke Korea. Di sana ia berjumpa dengan
seorang gadis Cina seusianya, pertemuan yang memulai sebuah perjalanan.

Monday, October 20, 2008

Bali Komodo Part 1: Matahari Terbenam di Uluwatu

Ketika alarm berbunyi pukul empat kurang dini hari, saya masih di alam mimpi. Namun alarm tersebut tidak juga berhenti, dan menarik saya kembali ke dunia nyata. Kamar saya. Lalu saya tersadar mengapa alarm tersebut berbunyi di pagi buta itu. Its komodo time! Saya langsung bergegas mandi dan berangkat ke airport.

Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit ketika saya sampai di terminal 1A. Air Asia berangkat dari terminal 1A bukan?

Ternyata, mulai beberapa minggu yang lalu, Air Asia dipindahkan ke terminal 1C, dan ayah saya yang tadi mengantar sudah terlanjur pulang. Alhasil, saya harus mengejar waktu dengan berlari dari terminal 1A ke terminal 1C dengan memanggul backpack saya yang berkapasitas 65 liter. Saat itu matahari sedang terbit. Ketika saya mulai berlari, langit masih cukup gelap. Ketika saya sampai, langit terang benderang. Silahkan mengira jaraknya.


Saya harus berlari menyusuri jalur ini dengan memanggul tas yang besar

Ketiga teman saya sudah sampai terlebih dahulu disana dan ternyata mereka sudah check-in untuk kita semua. Untung saja, karena antrian masih cukup panjang. Namun lalu saya teringat, saya masih harus memasukkan tas saya ke bagasi. Saya pun masuk ke dalam antrian.

Setelah sekitar 5 menit, saya tiba di barisan depan, dan meletakkan tas saya di atas timbangan, dan memperlihatkan tiket. Petugas langsung berkata, "Ini akan kena charge tiga puluh ribu, Pak". Saya bilang, "Tapi ini boleh dibawa masuk ke kabin?". Petugas itu bilang, boleh.

Kebetulan teman-teman saya membawa tas yang berukuran lebih kecil sehingga mereka tidak men-check-in-kan (bahasa yang aneh, tapi mau bagaimana lagi) tas mereka. Setelah menunggu sejenak, kami pun boarding, dan pesawat lepas landas menuju Denpasar, Bali.

Mobil sewaan kami (Avanza, 165 ribu per hari) sampai kira-kira 15 menit setelah kami mendarat. Lalu kami pun bergegas menuju Poppies Lane untuk mencari penginapan. Berhubung Poppies Lane adalah gang yang sempit, mobil diparkir dulu di Legian Parking. Pilihan dijatuhkan kepada Dua Dara (100 ribu per malam, double bed), penginapan pertama yang kami temukan. Dengan alasan kami cukup suka dengan suasananya, meski kondisi kamarnya sangat seadanya.


Monumen Bom Bali

Kami langsung pergi menuju Monumen Bom Bali untuk bertemu dengan seorang teman yang tinggal dan bekerja di Bali. Monumen ini cukup bagus dan segera menjadi landmark baru untuk Legian. Namun karena tidak ada pepohonan, berada di sekitar Monumen ini bisa membuat kulit cepat terbakar oleh matahari yang ganas.

Setelah makan siang di Warung Murah (kira-kira 20 ribu termasuk minum), Jl. Double Six (nama jalan yang sungguh aneh), kami bergegas menuju Garuda Wisnu Kencana yang ada di daerah selatan pulau Bali.

GWK (tiket 15 ribu) adalah sebuah kompleks kebudayaan yang belum betul-betul jadi. Saya cukup takjub dengan blueprint kompleks ini. Betul-betul megah dan lengkap. Namun karena ini adalah sesuatu yang baru dibuat, GWK menjadi tidak mempunyai nilai sejarah dan kurang menarik turis asing. Mayoritas hanya turis lokal yang datang dengan bus-bus pariwisata.


Garuda Wisnu Kencana

Setelah puas menjelajah GWK, termasuk meneguk Es Kelapa Muda (15 ribu) di kafetaria, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai selatan Bali, menuju Pura Uluwatu. Kami tidak mendapat informasi bahwa untuk memasuki Pura Uluwatu, kita harus mengenakan celana panjang. Namun mayoritas turis yang pergi kesana, terutama turis asing, juga mengenakan celana pendek. Maka para pemakai celana pendek harus menutupi kaki mereka dengan sarung-sarung berwarna norak seperti ungu atau kuning, yang malah membuat pemandangan disana menjadi unik.


Menikmati matahari terbenam di Uluwatu

Pura Uluwatu (tidak ada tiket, hanya tips) pada dasarnya adalah pura yang dibangun di tebing di tepi laut. Puranya sendiri tidak luar biasa, namun pemandangan ke laut bebas itu yang luar biasa, terutama untuk menikmati matahari terbenam. Sebetulnya ada juga pertunjukkan tari Kecak di malam hari (50 ribu), namun karena terasa mahal dan belum makan, kami kembali ke kota untuk mencari makan.

Pilihan jatuh kepada Kafe Tahu, sebuah kafe di kawasan Seminyak, yang mempunyai menu serba tahu dengan harga terjangkau (rata-rata menu tahu dibandrol dengan harga belasan ribu saja). Suasana pun cukup menyenangkan dengan gazebo-gazebo dari bambu dan ruang terbuka yang nyaman. Hanya saja ada cukup banyak nyamuk disana.


Di Kafe Tahu, Seminyak

Setelah kenyang oleh tahu, kami pergi menuju Adabar di daerah Kuta untuk minum-minum. Menyenangkan juga bar yang dimiliki oleh orang Perancis dan orang Jakarta ini. Dengan satu meja biliar dan bar yang cukup kecil membuat suasana akrab. Kekurangannya hanya nyamuk, dan musik yang bercampur dengan musik dari bar di sebelah jika kita duduk di sebelah luar.

Minuman pun mempunyai harga yang menyenangkan. Segelas Arak Attack (yang tentunya tidak dicampur Attack) dijual seharga 10 ribu rupiah saja dan merupakan pilihan favorit dibanding Bintang yang standar dan lebih mahal. Sepertinya Bali memungkinkan kita untuk keluar malam dan menikmati musik dan minuman beralkohol tanpa menguras kantong. Meski ada juga tempat seperti Ku De Ta pastinya.


Di Adabar, setelah meneguk Arak Attack

Setelah Adabar, kami sudah kehabisan energi dan sudah cukup mengantuk. Kami pun berpamitan dengan teman yang lain dan kembali menuju Dua Dara untuk tidur.

Besok: Makan babi guling dan berfoto dengan burung-burung beraneka warna di Ubud

Wednesday, October 8, 2008

Pergi ke Pulau Komodo

Selamat Idul Fitri.

Tanggal 1 dan 2 kemarin adalah hari libur Lebaran dan tanggal 3 adalah hari libur tambahan dari kantor. Lalu saya mengambil cuti lagi dari tanggal 6 - 15 Oktober (karena masih punya banyak cuti dan ingin menghabiskan dan karena belum bersemangat untuk kerja) sehingga alhasil saya libur dari tanggal 1 - 15 Oktober.

Setengah bulan penuh.

Namun seminggu pertama libur tidak saya manfaatkan dengan sangat baik. Terutama karena tenggorokan yang kembali bengkak sehingga harus banyak istirahat. Namun tiga hari pertama dihabiskan bersama keluarga besar yang sedang berkumpul di Jakarta. Jadi sebetulnya berkualitas juga liburannya.

Dan tibalah saatnya untuk liburan yang sebenarnya.

Besok pagi, saya harus bangun sebelum jam 4 subuh untuk mengejar pesawat jam 6.35 menuju Denpasar. Apakah saya akan berlibur di Bali? Ya dan tidak. Karena sebetulnya Bali hanya sebagai tempat persinggahan saja. Namun karena kebetulan saya terakhir ke Bali sudah sekitar 6 tahun yang lalu, maka saya memutuskan untuk memperpanjang singgah saya di Bali menjadi 2 malam.

Lalu setelah dari Bali?



Saya akan terbang ke Labuanbajo, Flores, untuk mengunjungi Pulau Komodo, yang terletak di sebelah barat Labuanbajo empat jam perjalanan laut. Namun semoga saja komodo-komodo disana tidak seganas komodo yang di foto.

Nantikan laporan dari Flores!